Banner Honda PCX

Biaya Politik Tinggi Dinilai Picu Distorsi Pilkada Langsung, Guru Besar STIK Angkat Bicara

Biaya Politik Tinggi Dinilai Picu Distorsi Pilkada Langsung, Guru Besar STIK Angkat Bicara

Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto, M.Si--SMSI

JAKARTA, PALPRES.COM - Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto, M.Si, menilai mahalnya biaya politik dalam Pilkada langsung telah melahirkan praktik politik transaksional yang semakin menguat dan berpotensi merusak kualitas demokrasi di tingkat daerah.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Albertus dalam Simposium Nasional Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) bertema “Pilkada dalam Bingkai Demokrasi Pancasila” yang digelar pada Rabu, 14 Januari 2026 lalu di Press Club Indonesia, Kantor Pusat SMSI, Jalan Veteran II Nomor 7C, Gambir, Jakarta Pusat.

Acara ini dibuka oleh Ketua Umum SMSI, Drs. Firdaus, M.Si., yang menekankan pentingnya evaluasi terhadap pelaksanaan Pilkada langsung agar demokrasi di daerah tetap berkualitas, terhindar dari praktik politik transaksional, dan selaras dengan nilai-nilai Demokrasi Pancasila.

Prof. Albertus merupakan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) periode 2020–2024 dari unsur pakar kepolisian yang dilantik Presiden RI Joko Widodo pada 19 Agustus 2020.

BACA JUGA:Jangan Biarkan Lahan Nganggur! Polsek Belitang II Bagikan Tips Bertani Produktif

BACA JUGA:Review LG StanbyME 2 Indonesia: Revolusi TV Portabel dengan Layar Lepas-Pasang

Ia adalah dosen tetap di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian sejak 2003, serta memiliki latar belakang jurnalistik sebagai wartawan Harian Suara Merdeka Semarang selama 17 tahun.

Terhitung mulai 1 Juni 2023, ia resmi dikukuhkan sebagai Profesor/Guru Besar bidang Ilmu Pemerintahan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian.

Dalam paparannya, Prof. Albertus menegaskan bahwa perdebatan Pilkada tidak seharusnya terjebak pada dikotomi antara pemilihan langsung dan tidak langsung.

Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada lemahnya sistem rekrutmen elite politik dan tingginya ongkos kontestasi yang harus ditanggung calon kepala daerah.

BACA JUGA:Jangan Remehkan Tebu! Tanaman Manis Ini Menyimpan Manfaat Besar bagi Tubuh dan Lingkungan

BACA JUGA:Dukung Infrastruktur Daerah, Gubernur Sumsel Puji Pembangunan Flyover KM 111 Jalan PT Servo Lintas Raya

“Pilkada langsung hari ini cenderung menjadi arena kompetisi modal.

Kandidat yang memiliki sumber daya finansial besar lebih berpeluang, sementara kapasitas, integritas, dan rekam jejak kepemimpinan sering kali terpinggirkan,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: smsi