Kisah Sukses Klaster Bhakti Tani Palembang, Berjaya Bersama Program Klasterku Hidupku BRI
Kisah Sukses Klaster Bhakti Tani Palembang, Berjaya Bersama Program Klasterku Hidupku BRI--BRI
PALPRES.COM- Di hamparan sawah Desa Jaya Bakti, Kecamatan Madang Suku, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan, denyut kehidupan petani tak pernah benar-benar lepas dari persoalan klasik, harga gabah yang fluktuatif, keterbatasan modal, hingga akses pasar yang tak selalu berpihak.
Sekitar 10 tahun silam, situasinya bahkan lebih menantang. Saat panen tiba, bukan keuntungan yang didapat, melainkan kebingungan.
Gabah melimpah, namun harga jatuh. Jika dipaksakan dijual, petani merugi. Jika diolah menjadi beras, belum tentu terserap pasar.
Di titik itulah, sebuah inisiatif sederhana muncul yang perlahan mengubah arah perjalanan para petani di Desa Jaya Bakti.
Dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Region 4 Palembang melalui program Klasterku Hidupku semakin mendorong klaster usaha tersebut berkembang dan membawa manfaat bagi kesejahteraan para petani di wilayah tersebut.
Ketua Klaster Lumbung Pangan Bhakti Tani, Mashudi, masih mengingat betul masa-masa itu. Sekitar 2016–2017, ia mengajak para petani untuk tidak buru-buru menjual hasil panen.
"Waktu itu harga gabah dan beras masih murah, belum seperti sekarang yang sudah ada standar harga dari pemerintah. Di saat panen, petani sering kesulitan menjual hasilnya. Jadi, saya ajak kawan-kawan petani untuk tidak langsung menjual gabah, tapi disimpan dulu. Nanti ketika musim paceklik atau harga sudah naik, baru diproses dan dijual," ujar Mashudi.
Langkah sederhana itulah yang menjadi titik awal terbentuknya Klaster Lumbung Pangan Bhakti Tani.
Dari sekadar tempat menyimpan, perlahan berkembang menjadi wadah bersama bagi para petani untuk saling menguatkan.
Kini, jumlah anggotanya telah mencapai sekitar 100 orang. Meski berjalan dengan sistem yang masih sederhana, semangat gotong royong menjadi fondasi utama yang menjaga klaster ini tetap bertahan.
"Jumlahnya dinamis, ada yang keluar, ada yang masuk lagi. Biasanya tergantung kondisi keuangan mereka. Kalau butuh cepat, mereka jual gabah langsung. Tapi kalau masih longgar, mereka simpan dulu untuk dijual saat harga bagus," ungkapnya.
Seiring waktu, klaster ini tak hanya mengandalkan penyimpanan gabah. Klaster usaha ini membangun ekosistem usaha yang saling terhubung.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

