Dengan begitu terjadinya kehilangan barang persediaan bisa dengan mudah dilacak oleh perusahaan.
Metode pencatatan barang dengan metode ini sendiri biasanya dilakukan oleh jenis perusahaan yang menawarkan atau menjual barang yang mempunyai harga yang relatif mahal dan jarang.
2. Metode pencatatan periodik (Periodic Inventory Method)
Metode pencatatan periodik dalam aplikasi pencatatan stok barang merupakan metode pencatatan yang sederhana dan mudah untuk dilakukan.
Dalam metode ini, pencatatan atas pembelian dan penjualan dibedakan satu sama lain.
Pencatatan atas pembelian akan dicatat dengan mendebit akun pembelian dan mengkredit akun kas atau utang.
Sedangkan untuk pencatatan atas penjualan akan dicatat dengan mendebit akun kas atau piutang dan mengkredit akun penjualan.
Perusahaan yang menerapkan metode pencatatan periodik akan lebih sulit untuk mengetahui jumlah persediaan dalam waktu tertentu.
Perusahaan hanya dapat mengetahui jumlah persediaan di akhir periode yang disebut juga jumlah persediaan barang akhir dengan melakukan perhitungan fisik atau stock opname pada jumlah persediaan barang akhir.
Barang-barang yang sesuai untuk diterapkan dalam metode pencatatan periodik adalah barang-barang dengan nilai jual yang relatif lebih murah namun penjualannya cukup sering dilakukan.
Pada metode ini, penyesuaian akhir periode dilakukan dengan menutup persediaan barang awal dan kemudian mencatat persediaan barang akhir yang telah dilakukan perhitungan fisik sebelumnya.
Untuk menentukan saldo akhir pada metode pencatatan periodik dapat dilakukan perhitungan yaitu perhitungan nilai fisik persediaan atau stock opname yang dikalikan dengan harga pokok penjualan pada satuan barang. Harga pokok penjualan dapat diperoleh dari data persediaan barang awal dan data persediaan barang akhir.
Kelemahan Sistem Periodik
Pencatatan yang hanya dilakukan pada akhir periode saja dan tidak setiap saat terjadi transaksi, maka menyebabkan kehilangan barang persediaan akan sulit untuk diketahui oleh perusahaan dengan cepat dan tepat.
Di samping itu, metode ini juga kurang sempurna dalam hal menyajikan jumlah atau saldo yang pasti pada persediaan barang.
Selain itu metode ini juga akan menyulitkan penentuan dalam hal penetapan harga yang benar untuk harga pokok barang yang sudah terjual.