Selama Summit, para ahli dari Indonesia dan Asia membahas bagaimana ekosistem mode kawasan ini terbentuk, praktik dan solusi yang menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan di panggung dunia, serta bagaimana mode berkontribusi pada citra internasional negara-negara Asia.
BACA JUGA:Bangga! Jenama Lokal Indonesia Turut Berpartisipasi dalam BRICS+ Fashion Summit di Moskow
Para pembicara juga mengeksplorasi peluang kolaborasi internasional baru yang kini terbuka bagi industri mode kawasan.
Sustainability dan circular fashion menjadi tema sentral diskusi.
“Di Indonesia, kami memiliki semua serat alami yang dibutuhkan, mulai dari daun pisang, bambu, serat kelapa, hingga rami,” ujar Liliek Setiawan.
“Namun tantangannya adalah tingginya biaya bahan baku ini, karena permintaan masih terbatas. Untuk membuat produksi serat ramah lingkungan dapat berkembang skala besar, dibutuhkan permintaan pasar yang kuat. Semuanya bergantung pada hukum permintaan dan penawaran. Karena itu saya mengajak kita semua untuk mulai mengenakan pakaian yang hanya terbuat dari serat alami,"sambungnya.
Dalam kurun tiga tahun, BRICS+ Fashion Summit telah mempertemukan perwakilan industri mode dari 109 negara—lebih dari setengah dunia.
Dalam dialog multinasional ini, kontribusi Indonesia, dengan ide-ide visioner dan talenta kreatifnya, menonjol sebagai kekuatan pendorong yang menetapkan arah baru bagi masa depan mode global.