“Gempa yang terjadi tersebut tidak dipicu oleh aktivitas Sesar Citarik, karena pusat gempa utama dan susulannya tersebar jauh di sebelah barat jalur Sesar Citarik,” ungkap Daryono.
BACA JUGA:3 Gempa Mematikan yang Pernah Terjadi di Nabire Papua Tengah, Ini yang Terkuat
BACA JUGA:Gempa Magnitudo 6.5 Guncang Nabire Papua, Dipicu Sesar Anjak Weyland, Sebabkan Kerusakan Ringan
Getaran gempa tersebut, kata Daryono, dirasakan di Kalapanunggal dan Kabandungan dalam Skala Intensitas III - IV MMI, di Pamijahan dan Leuwiliang dalam III MMI, di Bogor dalam II - III MMI, dan di Palabuhanratu dan Depok dalam II MMI.
Sebabkan Kerusakan Ringan
“Gempa tersebut menyebabkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah warga di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan.
Menurut catatan sementara, diketahui jika 5 rumah yang terdampak, 20 jiwa harus menghadapi situasi darurat.
BACA JUGA:Gempa Magnitudo 4.4 Guncang Maluku Tenggara Barat, Tak Berpotensi Tsunami
BACA JUGA:Gempa Magnitudo 4.4 Guncang Nabire Papua, Cek Detail Episentrum dan Kekuatannya
Gempa yang terjadi tidak menimbulkan korban meninggal dunia dan luka-luka,” papar Daryono.
Daryono mengatakan, jika kerusakan bangunan rumah disebabkan karena hiposenter gempa yang dangkal, kondisi tanah lunak di zona gempa dan struktur bangunan yang lemah tidak standar tahan gempa.
Terjadi Gempa Susulan
“Menurut hasil monitoring BMKG, menunjukkan jika gempa susulan telah terjadi sebanyak 39 kali.
BACA JUGA:Gempa Magnitudo 3.9 Guncang Nduga Papua, pada Kedalaman 10 Km, Tak Berpotensi Tsunami
BACA JUGA:Gempa Bumi Guncang Pagaralam di Kedalaman 41 Km, Tidak Berpotensi Tsunami
Gempa susulan dirasakan sebanyak 5 kali (M3,0 M3,8 M26, M2,8 dan 3,8). Magnitudo gempa susulan terbesar: M 3,8 dan terkecil: M 1,9,” ujar Daryono.
Daryono menambahkan, gempa merusak di wilayah terdampak bukan yang pertama kali terjadi.
“Kejadian serupa pernah terjadi pada Maret 2020, dimana ratusan rumah rusak di 6 kecamatan yang termasuk Kabandungan. Pada Desember 2023 juga terjadi di Pamijahan,” tukas Daryono.