BACA JUGA:Antusiasme Membludak, 835 Siswa Daftar Open Rekrutmen Marching Band Bukit Asam
BACA JUGA:Bukit Asam Siap Komersialisasikan Produk Hilirisasi Batu Bara Kalori Rendah dengan Merek BA Grow
Ilmu yang didapat langsung dipraktikkan, dan hasilnya nyata yaitu puyuh bertelur sesuai hitungan, keuntungan mulai mengalir.
Melihat kesungguhan itu, PTBA menambah dukungan — 1.000 ekor puyuh, kemudian 2.000 ekor lagi di akhir 2024.
Kini, populasi di kandang Bangsal Pematang sudah mencapai 3.000 ekor.
Telur Kecil Jadi Sumber Penghasilan
BACA JUGA:Bukit Asam Siap Komersialisasikan Produk Hilirisasi Batu Bara Kalori Rendah dengan Merek BA Grow
BACA JUGA:Debut Manis! SMK Bukit Asam Sabet Juara Futsal Palembang dan Lolos ke Nasional
Setiap hari, kandang itu menghasilkan 23–25 kilogram telur.
Hasil panen dikumpulkan seminggu sekali, lalu dipasarkan ke Tanjung Enim, Muara Enim, hingga Baturaja.
Harga jual relatif stabil pada Rp36.000 per kilogram di Tanjung Enim, dan Rp34.000 di Baturaja karena pembeli datang langsung ke lokasi.
Setelah dipotong biaya pakan dan listrik, keuntungan bersih cukup untuk memenuhi upah setara UMR bagi anggota yang aktif.
BACA JUGA:Bukit Asam Sosialisasikan MediaMIND 2025 di Palembang, Tampilkan Inovasi Berbasis Potensi Lokal
BACA JUGA:Semarak Kemerdekaan, Bukit Asam Wujudkan Edukasi Kreatif Generasi Muda Lewat 'Jelajah Energi'
Saat ini, dari 10 anggota kelompok, 4 orang mengelola penuh kandang, sementara sisanya membantu bila ada perbaikan atau kebutuhan mendesak.
Telur Kecil, Harapan Besar
Bagi kelompok Bangsal Pematang, perjalanan ini baru permulaan.
Desa Impian: PTBA Ubah Hidup Warga Sleman dari Tambang Ilegal ke Budidaya Puyuh.-PTBA-