“Tri percaya transformasi digital itu harus bisa dirasakan semua orang. Makanya kami terus memperluas akses supaya masyarakat bisa lebih mudah terhubung, belajar, bekerja, dan beraktivitas tanpa terkendala jaringan,” ujarnya.
BACA JUGA:Sekali Cas Tembus 355 KM! Hyundai Rilis City Car Murah Berfitur Canggih Paling Ideal untuk Ibu Kota
Bagi generasi pekerja seperti Miftah, internet sekarang sudah seperti “alat kerja utama”. Hampir semua aktivitasnya bergantung pada koneksi karena harus mengirim laporan, buka dokumen, ikut meeting, sampai koordinasi dengan tim.
Di tengah kebutuhan itu, Tri hadir sebagai salah satu pilihan yang banyak digunakan. Selain dikenal dengan paket internet yang lebih hemat dan fleksibel, layanan ini juga mendukung berbagai kebutuhan digital sehari-hari.
Mulai dari akses ke Google Gemini untuk membantu pekerjaan dan ide kreatif, hiburan lewat Vidio Lite dan Viu Premium, sampai perlindungan digital lewat Tri AI: Anti Spam/Scam yang membantu mengurangi gangguan dari pesan tidak dikenal.
"Tentu saja ini akan membuat pekerjaan jadi lebih lancar, dan nggak khawatir lagi soal sinyal,” tambahnya.
BACA JUGA:Bantu Nutrisi Anak, Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Beri Makanan Tambahan
Meski begitu, tantangan di dunia kerja digital tetap ada, terutama saat beban jaringan meningkat. Misalnya ketika banyak orang sedang rapat online bersamaan, atau saat ada momen tertentu yang membuat trafik data melonjak.
Untuk menjaga hal itu, jaringan Tri dan Indosat sudah menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Sistem ini bekerja di belakang layar, memantau kondisi jaringan secara real-time, mendeteksi gangguan lebih awal, lalu membantu tim teknis melakukan penanganan lebih cepat.
“Dengan bantuan teknologi AI, kami bisa lebih cepat tahu kalau ada potensi gangguan, jadi bisa langsung ditangani sebelum berdampak ke pengguna,” tutupnya.