BACA JUGA:Rencana Milan Melepas Beberapa Pemain Kunci untuk Membentuk Skuad Baru
UEFA langsung mengecam tindakan FIFA dengan mengkritik badan pengatur sepak bola dunia tersebut, dan mereka menyatakan bahwa keputusan mereka telah mempertaruhkan integritas permainan.
Berikut Pernyataan UEFA menanggapi keputusan FIFA terkait Balogun:
"Keputusan kemarin dengan menangguhkan selama satu tahun penerapan sanksi skorsing otomatis satu pertandingan setelah kartu merah yang diterima pemain Folarin Balogun telah melanggar batas yang tidak dapat diterima.
"Sepak bola, seperti olahraga lainnya, bergantung pada aturan, yang menjadi dasar terciptanya kompetisi yang adil, jujur, dan transparan. Terkadang aturan memang terbuka untuk ditafsirkan.
"Namun dalam kasus ini tidak demikian. Skorsing otomatis minimal satu pertandingan setelah menerima kartu merah bukanlah pilihan yang bersifat diskresioner dan tidak memerlukan keputusan dari badan yang berwenang agar dapat diberlakukan.
"Ini merupakan prinsip yang tertanam dalam regulasi, yang tidak dapat dijadikan pengecualian, apalagi di tengah berlangsungnya turnamen ketika beberapa pemain sebelumnya berada dalam situasi yang sama dan menjalani hukuman skorsing mereka sebagaimana mestinya.
"Ketika kepastian terhadap aturan tidak lagi dijamin oleh pihak yang bertugas menjaganya, integritas permainan dipertaruhkan dan kredibilitas sebuah kompetisi pun tercoreng." Selain itu, keputusan tersebut juga menciptakan preseden dalam turnamen yang sedang berlangsung, sehingga situasi serupa di masa mendatang harus diperlakukan dengan cara yang sama, yang pada akhirnya dapat merugikan jalannya kompetisi.
"Sepak bola adalah olahraga paling dicintai di dunia karena keindahan permainannya, dan olahraga ini dipercaya karena dimainkan di mana pun dengan aturan yang sama. Sebuah turnamen tidak pernah benar-benar berdiri sendiri, dan jika turnamen tersebut adalah Piala Dunia, maka dampaknya dapat membawa konsekuensi positif maupun negatif bagi sepak bola secara keseluruhan.
"Kami menyatakan ketidakpercayaan kami atas keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, ini tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan."
BACA JUGA:Terungkap! Ini Alasan Megawati Gagal Pakai Nomor 8 di Hyundai Hillstate
Blatter: “Sepak bola bukan arena permainan kekuasaan politik”
Mantan presiden FIFA Sepp Blatter, yang pernah memimpin antara tahun 1998-2015, telah memberikan pernyataan: bahwa sepak bola tidak dapat menjadi "arena permainan kekuasaan politik."
"Kartu merah tidak bisa dibatalkan hanya karena panggilan telepon politik." "Keputusan-keputusan itu dibuat dan dibatalkan oleh aturan, bukti, dan badan-badan independen," demikian unggahan di akun X Blatter.
"Jika Presiden AS ikut campur dengan Presiden FIFA, dan seorang pemain tiba-tiba dibebaskan sebelum pertandingan babak gugur Piala Dunia, maka pertanyaannya adalah: FIFA ada dimana?