Bagaimana Spanyol Bisa Memenangkan Piala Dunia?

Selasa 21-07-2026,11:48 WIB
Reporter : Agus Pongki
Editor : Agus Pongki

Tenang dan terkendali saat menguasai bola di bawah tekanan, bek muda ini bermain dengan kedewasaan yang melampaui usianya sepanjang turnamen.

BACA JUGA:Megawati Hangestri Digembleng Latihan Fisik di Hyundai Hillstate, Siap Hadapi V-League 2026/2027

BACA JUGA:Dikonfirmasi oleh Manajer Club Brugge, Kesepakatan Arsenal untuk Christos Tzolis Tercapai

Penguasaan Bola Memiliki Tujuan

Spanyol sangat konsisten mengendalikan pertandingan melalui penguasaan bola, tetapi ini bukan sekedar ke permainan umpan tanpa henti seperti generasi emas mereka sebelumnya.

Penguasaan bola tim asuhan De la Fuente memiliki tujuan untuk mengatur tempo dan menipu lawan, berusaha pelan menggeser posisi lawan sebelum menyerang melalui ruang yang mereka ciptakan.

Pertandingan final melawan Argentina mengilustrasikan jelas filosofi tersebut.

Spanyol mengontrol sekitar 65 persen penguasaan bola, menyelesaikan banyak umpan dan mencatatkan lebih banyak tembakan tepat sasaran, mereka membatasi ritme serangan Argentina untuk waktu yang lama.

Penguasaan bola menjadi alat defensif sekaligus berfungsi menjadi senjata menyerang, melalui rangkaian umpan yang berkelanjutan mengurangi peluang lawan dan mencegah serangan balik.

BACA JUGA:Rekor Piala Dunia Tercipta, Argentina Mencetak Sejarah Paling Memalukan dengan Kartu Merah Fernandez

BACA JUGA:Bintang Milan Menghadapi Masa Depan yang Tidak Pasti

Spanyol Berevolusi di Bawah Luis de la Fuente

Kesuksesan Spanyol adalah cermin kerja keras pelatih kepala Luis de la Fuente.

Sang pelatih tidak mengulangi kesuksesan sepak bola era Vicente del Bosque, namun ia memodernisasi identitas Spanyol.

Luis de la Fuente menjaga tim tetap berbakat secara teknis namun lebih fleksibel, lebih cepat dalam transisi, dan lebih bersedia menyerang secara vertikal ketika peluang muncul.

Kepercayaannya pada pemain muda berhasil membentuk kembali tim nasional untuk bertahan lebih lama.

Bukan mengandalkan nama-nama yang sudah mapan, ia justru membangun skuad yang mampu mempertahankan intensitas sepanjang turnamen.

Pendekatan ini terbukti telah menghasilkan kesuksesan di Kejuaraan Eropa dan Liga Bangsa-Bangsa UEFA sebelum mencapai puncaknya di Piala Dunia.

Kategori :