Posisi saya nanggung. Junior college sudah selesai, sisa dua tahun bisa dapat gelar Bachelor (S1).
Akhirnya saya memutuskan untuk bertahan di Amerika, tapi memilih universitas yang lebih terjangkau secara biaya. Goodbye Berkeley, karena biayanya terlalu mahal. Puluhan ribu dollar hanya untuk tuition setahun.
Goodbye KU, terlalu repot untuk pindah-pindahan ke negara bagian yang berbeda lagi, di saat uang sangat mepet.
BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas serta Reputasi Brand Nasional
Semua saya putuskan sendiri. Tanpa konsultasi apa pun kepada orang tua. Belakangan, waktu bicara dengan Abah soal ini, dia bilang begini: "Sebenarnya, kalau waktu itu kamu ngeyel masuk Berkeley, kita bisa saja mencari cara untuk memenuhi biayanya. Tapi ya sudah".
Saya akhirnya memutuskan untuk tetap di Sacramento. Masuk di California State University Sacramento, yang populer disebut Sacramento State atau Sac State.
Biaya SPP-nya jauh di bawah dua kampus impian saya. Tapi tetap memiliki program Bisnis yang terbilang bagus di California. Kalau dibandingkan dengan Berkeley, biayanya mungkin hanya seperempatnya.
Belum lagi biaya hidup. Tinggal di Berkeley, yang terletak di kawasan Bay Area dekat San Francisco, sedikitnya dua kali lebih mahal.
BACA JUGA:UI dan UGM Masuk 10 Besar Kampus dengan Reputasi Akademik Terbaik di Asia Tenggara
Kemudahan biaya lain: Sac State memberi toleransi kepada mahasiswanya yang berasal dari negara terdampak krisis ekonomi. Kami boleh mengangsur pembayaran.
Jadilah saya kuliah di Sac State. Jurusan Bisnis konsentrasi Marketing. Karena uang kiriman dari Indonesia turun superdrastis, saya harus menghemat biaya tinggal.
Kali ini menyewa sebuah rumah bersama tiga teman lain dari Indonesia. Hemat biaya banyak.
Saya juga bekerja di kafetaria kampus. Jadi pelayan, kasir, kitchen helper (asisten koki), juga cuci piring.