Nurlela (56), ibu rumah tangga (IRT), warga Gang Masjid, Kecamatan Talang Ubi, mengeluhkan naiknya harga telur yang kini mencapai Rp30 ribu perkilogram.
Padahal, setiap harinya ia menghabiskan telur ayam 1 sampai 2kg untuk membuat kue jajanan pasar, sehingga ia merasa sangat kesulitan untuk memutar uang belanja.
"Sekarang untung penjualan berkurang. Kalau mau naikkan harga jual kue, takutnya pelanggan malah tidak mau beli," ucapnya saat dibincangi, Jumat (19/8).
Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten PALI, Teguh Eko Sutrisno mengatakan, untuk mengantisipasi naiknya sejumlah harga komoditas di pasar, Pemkab PALI akan menggelar pasar murah.
BACA JUGA:BKSDA Sumsel Gagalkan Penyelundupan Ribuan Telur Penyu Sisik
"Terkait kenaikan harga sembako, kami sudah menyiapkan program pasar murah sesegera mungkin," katanya.
Terkait kenaikan harga telur, ia menduga karena permintaan pasar yang meningkat akibat ramainya kegiatan satu pekan terakhir.
Apalagi, diungkapkannya, telur merupakan salah satu bahan baku untuk banyak makanan olahan. Mulai dari kue kering, kue basah atau makanan berat.
"Pekan ini, banyak momen perayaan. Jadi permintaan telur tinggi, karena sebagai bahan baku makanan olahan. Sedangkan stok di beberapa suplier tidak bertambah. Tapi, kenaikan ini tidak akan menyebabkan inflasi, karena penyebabnya tidak permanen hanya di faktor hilir saja," ungkapnya.
BACA JUGA:Harga Telur Ayam Ras Belum Stabil
Ia menjelaskan, pihaknya selalu memantau perkembangan harga di pasar setempat.
"Terbaru saat kami meninjau di pasar dan menemukan harga telur berada di kisaran Rp29 ribu sampai Rp30 ribu. Tentu harga pasar akan selalu kami pantau," tukasnya.