BACA JUGA:CATAT! 4 Kategori Pemilik NIK dan KK Ini Tidak Bisa Terima Dana Bansos Tahun 2023
Dalam kaitan itu, Eddy meminta agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang harus cepat bersikap untuk segera membenahi keadaan ini.
Sementara itu, pengamat sosial kemasyarakatan, Yan Najib mengatakan bahwa reruntuhan Pasar Cinde yang merusak panorama kota itu harus segera dibangun.
Jika tidak, kata Yan Najib, kredibilitas pemerintah bakal dicap masyarakat sebagai "perusak" situs sejarah yang ada di Kota Palembang.
"Setahu saya, Pasar Cinde merupakan bangunan sejarah milik masyarakat, berangkat dari perbaikan dan keindahan dari Pasar Lingkis menjadi Pasar Cinde," ujar Yan Najib.
BACA JUGA:Nah Loh! Pemprov Jambi Bangun Tugu di Wilayah Sumsel
Pasar itu, kata Yan Najib, dibangun pada tahun 1957.
Setelah setahun kemudian pasarnya selesai dan disambut masyarakat dengan segala sukacita.
Pasar Cinde sambung Yan Najib, merupakan pasar pertama di Palembang bergaya Eropa.
Pasarnya yang memiliki tiang penyangga dengan bentuk cendawan sangat menawan masyarakat ketika itu.
BACA JUGA:Unik, Rumah di Solo Hanya Selebar 1 Meter, Ini Penampakannya
"Setahu saya, pembangunan Pasar Cinde ini diarsiteki insinyur asal Belanda, Hermann Thomas Karsten," ujar Yan Najib.
Dari bagian struktur bangunan pasar itu, katanya, memiliki nilai filosofi kerakyatan.
Artinya, tiang penyangga pasar menyiratkan nilai seolah para pedagang berjualan di bawah juntaian pohon yang melindungi para pedagang dari panas matahari.
Tiang-tiang penyangga itu dibangun mirip pepohonan yang membuat pedagang merasa nyaman menikmati luasnya sirkulasi udara di pasar tersebut.
BACA JUGA:Legenda Parang Betuah dari Tanjung Baru Indralaya Utara Ogan Ilir, Kisah yang Penuh Pesan Moral