Feminisme, Kedalaman Cinta, dan Lailatul Qadr

Selasa 09-04-2024,00:01 WIB
Reporter : Sulis Utomo
Editor : Kgs Yahya

Lebih dekat. 

Seperti yang dkatakan Imam Syafi'i, barang siapa yang mendambakan martabat utama, banyaklah berjaga di waktu malam).

Banyaknya hadist yang menganjurkan untuk banyak beribadah  malam hari pada malam-malam ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan mengisyaratkan adanya berkah dan nilai-nilai keutamaan pada malam hari.

Lailatul Qadar, meski kemudian maknanya berkembang bahkan hingga menyentuh mistis, dimaknai sebagai malam mulia di mana seorang hamba mencapai puncak kedekatan spiritualitasnya dengan Tuhannya.  

BACA JUGA:Kisah Sahabat Nabi: Julaibib Sang Buruk Rupa yang Hatinya Bak Malaikat dan Dirindukan Surga

BACA JUGA:Mengenal Ikan Terbesar di Dunia yang Hidup di Era Nabi Yunus, Ada dalam Kitab Suci Al Qur'an

Lalu, bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan meraih prestasi puncak itu?

Ibn’ Arobi, filsuf Arab Andalusia punya pandangan menarik. 

Menurutnya, untuk meraih lailatul qadr, seyogyanya diraih bukan hanya dengan ibadah. 

Namun juga dengan membersihkan dan mengheningkan jiwa. 

BACA JUGA:Muslim Wajib Tahu! Kapan Waktu, Besaran, dan Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga dan Diri Sendiri

BACA JUGA:Ini 5 Tips Agar Tak Salah Pilih Pesantren, Wajib Cheking Ini Agar Dapat Pesantren Ideal

Lebih jauh, membersihkan jiwa dan meraih sifat-sifat feminisme seorang perempuan.

Secara dimensi waktu, malam adalah perempuan dan siang adalah laki-laki. 

Meraih keutamaan ibadah, doa, dan penyerahan diri haruslah dilakukan secara feminin: hening dan penuh kelembutan hati.

Jalaluddin Ar-Rumi, inspirator Ibn’ Arobi, menarasikan perempuan dengan begitu indah: “Perempuan adalah tipe terluhur dari keindahan di bumi. 

Kategori :