Ia mengingatkan, agar Lapas tidak kehilangan rasa nyaman akibat kelalaian dalam memberikan layanan dasar yang layak.
BACA JUGA:Cegah Penyakit Menular, 50 Orang Warga Binaan Lapas Sekayu Ikuti Tes TBC dan HIV Aids
BACA JUGA:Langkah Preventif Risiko Kebakaran, Lapas Sekayu Lakukan Pegecekan APAR
“Jika tidak ada penegakan aturan dan pengawasan yang kuat, wibawa Lapas akan hilang.
Ini bisa berujung pada praktik pembiaran. Warga binaan tahu persis apa yang mereka terima,” kata Lilik.
Dalam konteks kepemimpinan, Lilik menggarisbawahi pentingnya kepekaan sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan.
Menurutnya, kebijakan yang tidak aspiratif dan tidak mempertimbangkan kemanusiaan, akan menciptakan ketidaknyamanan dan potensi konflik di dalam Lapas.
BACA JUGA:Lapas Sekayu Siap Dukung Pemkab Muba Jadi Kabupaten Layak Anak
BACA JUGA:Adu Ketangkasan Suara Antar Warga Binaan Lapas Sekayu di Lomba Karoke
“Kita menghadapi risiko yang asimetris. Karena itu, kebijakan harus dibuat dengan pertimbangan matang dan dasar kepekaan.
Wilayah Sumsel harus menjadi pelajaran dalam menegakkan prinsip-prinsip kemanusiaan di Lapas,” pungkasnya.