Hemat Miliaran! Operasi Jantung Standar Dunia Kini Ada di Palembang, Tak Perlu ke Luar Negeri

Minggu 18-01-2026,21:30 WIB
Reporter : Sri Devi
Editor : Kgs Yahya

Ajang ilmiah ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan potensi sinergi antara inovasi ortopedi dan kardiovaskular melalui pendekatan ilmiah yang integratif.

BACA JUGA:7 Olahraga Kardio Terbaik untuk Kesehatan Jantung

BACA JUGA:Daun Salam: Bumbu Murah dengan Khasiat Mahal, Ini Fakta yang Jarang Diungkap

“Kegiatan ini diharapkan agar memperkuat kolaborasi lintas disiplin dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” ujar Angelia Agustine dalam sambutannya.  

Sementara dr. Heston G. B. Napitupulu, Sp.BTKV, Subsp.JD (K), MARS menyampaikan bahwa perkembangan teknik Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) terus mengalami kemajuan signifikan.“Evolusi CABG dari metode konvensional dengan sternotomi penuh menuju teknik minimal access merupakan terobosan penting dalam bedah jantung.

Pendekatan ini tidak hanya mengurangi trauma operasi, nyeri pascabedah, dan waktu pemulihan pasien, tetapi juga meningkatkan keselamatan serta kualitas hidup pasien tanpa mengurangi efektivitas tindakan revaskularisasi atau pemulihan aliran darah,” ujarnya dalam sesi bertajuk CABG Evolution: From Conventional Sternotomy to Minimal Access.

Penanganan atrial fibrillation atau gangguan irama jantung terus mengalami perkembangan signifikan seiring kemajuan riset dan inovasi teknologi di bidang kardiologi.

BACA JUGA:6 Manfaat Ngopi yang Jarang Disadari, Kecil di Cangkir Besar Dampaknya

BACA JUGA:Ingin Diet Sehat? 5 Sayuran Ini Wajib Kamu Konsumsi

“Transformasi dari penelitian dasar hingga penerapan klinis melalui pulse field ablation membuka peluang terapi yang lebih presisi dan aman, dengan kemampuan menargetkan jaringan secara selektif serta meminimalkan risiko kerusakan pada jaringan di sekitarnya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien,” tambah Dr. dr. Alexander Edo Tondas, SpJP (K), M.H, FIHA, FICA, FAPSC, FESC.

Di bidang ortopedi, dr. Ivan Mucharry Dalitan, Sp.OT, Subsp.P.L(K), spesialis Ortopedi Siloam Hospitals Mampang, menjelaskan bahwa penanganan Osteoarthritis (OA) lutut kinisemakin berkembang dengan pilihan terapi yang disesuaikanberdasarkan tahap dan kondisi pasien, mulai dari terapi non-bedah termasuk stem cell hingga tindakan bedah denganbantuan VELYS™ Robotic-Assisted Surgery untuk Total Knee Replacement (TKR) yang lebih presisi dan memungkinkan pasien mulai mobilisasi lebih cepat, dalam 4–12 jam pascaoperasi.

“Pendekatan modern OA lutut tidakhanya berfokus pada pengurangan nyeri, tetapi juga pada pemulihan fungsi sendi dan peningkatan kualitas hiduppasien melalui terapi yang paling tepat dan minimal invasifbila memungkinkan,” jelasnya.

Dalam sesi yang sama, dr. Ricky Wibowo, SpOT, CF-CO, AIFO-K menyampaikan untuk Mencegah progresi osteoarthritis atau nyeri sendi pada lutut tidak hanya soal pengobatan, tapi juga gaya hidup.

BACA JUGA:Jangan Remehkan Tebu! Tanaman Manis Ini Menyimpan Manfaat Besar bagi Tubuh dan Lingkungan

BACA JUGA:Mengapa Ikan Betok Sering Cacingan? Bahaya Tersembunyi di Balik Gurihnya Daging Betok

“Dengan kombinasi fisioterapi, manajemen berat badan, dan intervensi non-bedah, pasien bisa mengurangi nyeri, menjaga fungsi sendi, dan tetap aktif dalam keseharian mereka,” jelasnya.

Kategori :