Melanjutkan tradisi panjang penghargaan terhadap peran guru dalam ekosistem kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia.
Selama lebih dari dua dekade, DBL Indonesia tidak hanya menjadi panggung kompetisi, tetapi juga ruang lahirnya mimpi ribuan pelajar-atlet dari Aceh hingga Papua.
Mulai dari mimpi sederhana seperti lolos DBL Camp, hingga meniti karier sebagai atlet profesional maupun profesi lainnya.
Di balik perjalanan itu, ada satu aturan yang tak pernah berubah sejak 2004: setiap tim wajib didampingi oleh guru.
Nah, di sinilah peran guru di DBL itu sangat luar biasa.
Peran mereka di DBL jauh melampaui formalitas.
Mereka hadir di pinggir lapangan, membantu pelatih membaca permainan, mencatat pelanggaran, hingga memberi motivasi saat pemain terjatuh.
Peran yang sering tak terlihat, tetapi krusial. Cerita tentang dedikasi guru pun tumbuh dari berbagai sudut, dari bangku penonton hingga momen-momen emosional di lapangan.
DBL Indonesia sebenarnya selama ini telah beberapa kali memberikan apresiasi terhadap kerja-kerja luar biasa para guru di kompetisi DBL.
Salah satu yang mendapatkan respon positif dari publik -dan kemudian banyak diikuti event lain- adalah tradisi menghadirkan guru di partai final untuk mendampingi pemain mereka memasuki lapangan.
“Peran guru sangat penting dalam perjalanan DBL. Tanpa guru-guru di sekolah, program pelajar-atlet kami tidak akan bisa seperti sekarang,” ujar Azrul.
Momentum DBL Camp 2026 pun menjadi titik baru.
Apalagi penyelenggaraan DBL Camp 2026, 27 April-3 Mei juga melintasi peringatan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei).
Di dua momentum penting itu DBL Indonesia ingin tak sekadar memfasilitasi para pelajar meraih mimpinya, tetapi juga para guru.
“Selama 21 tahun, kami membantu mewujudkan mimpi anak-anak muda.
Sekarang waktunya kami ikut mewujudkan mimpi para guru yang selama ini mendampingi mereka,” tegas Azrul.