Banner Honda PCX

Ichsanuddin Noorsy: Dari Bencana ke Bencana

Ichsanuddin Noorsy: Dari Bencana ke Bencana

Ichsanuddin Noorsy, Ekonom Senior/Pengamat Ekonomi/Penasehat Forum Akademisi Indonesia (FAI)--SMSI

JAKARTA, PALPRES.COM - Sejurus kekalahan Al Gore (Capres AS dari Partai Demokrat) melawan George W Bush (Capres AS dari Partai Republik) pada Pemilu Presiden AS November 2004,  dunia disajikan isu perubahan iklim.

Sebagai “hiburan” atas kekalahannya, Al Gore mendapat hadiah untuk mengkampanyekan “An Unconvenient the Truth” (Kebenaran yang Tidak Nyaman) ke manca negara. 

Propaganda ini menguraikan bahwa masyarakat internasional menghadapi perubahan iklim global yang nyaris tak terelakkan.

Ichsanuddin Noorsy, Ekonom Senior/Pengamat Ekonomi/Penasehat Forum Akademisi Indonesia (FAI), memberikan pandangan terkait hal tersebut.

BACA JUGA:Update Jadwal Sholat Palembang dan Sekitarnya Hari Ini, Selasa 6 Januari 2026

BACA JUGA:Harga Emas di Pegadaian Naik Hari Ini, Produk UBS dan Galeri24 Kompak Menguat

Menurut Ichsanuddin Noorsy, sebenarnya hal itu bukan sekadar perubahan iklim fisik. 

Gagasan perubahan itu berjalan sesuai dengan dogma Tatanan Dunia Baru (New World Order) yang mengemuka saat Woodrow Wilson (Partai Demokrat) menjadi Presiden AS ke 28 (1913-1921).

Saat itu diksinya League of Nations (Liga Bangsa-Bangsa). Lalu melalui konferensi Bretton Woods 1944, tema tatanan dunia baru ini memposisikan AS sebagai pemimpin dunia. 

Tentu karena AS sebagai pemimpin sekutu telah memenangkan Perang Dunia kedua (PD II).

BACA JUGA:Prakiraan Cuaca BMKG Selasa 6 Januari 2026: Palembang dan Sebagian Sumsel Berawan

BACA JUGA:Pemkot Lubuklinggau Siap Bertindak, Tunggu Payung Hukum Angkutan Batu Bara

Lalu PBB, Bank Dunia, IMF, dan WTO (GATT) pun hanya merupakan lembaga yang menjalankan dan menjaga kepentingan AS. 

Inilah perubahan sistem, menjadi multilateral.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: smsi