Ini Sosok Ulama Penesak Karismatik di Ogan Ilir, Makamnya Banyak Didatangi Penziarah

Selasa 19-09-2023,09:03 WIB
Reporter : M Wijdan
Editor : Sulis Utomo

INDRALAYA, PALPRES.COM - Kabupaten Ogan Ilir banyak sekali memiliki makam-makam bersejarah, khususnya di Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Makam bersejarah tersebut seperti makam Putri Pinang Masak yang berada di Desa Senuro, Makam Pahlawan Said Umar Baginda Sari di Desa Tanjung Atap.

Ada juga makam Usang Sungging di Desa Tanjung Batu, Makam Puyang Darusallam, Makam Puyang Bang Tawi, Makam Puyang Usang Gemok.

Lalu, Makam Puyang Usang Darah Putih, dan Makam Puyang Tuanku Umar Baginda Saleh atau Said Umar Baginda yang berada di Desa Burai.

BACA JUGA:Periksa NIK KK Anda, Ada 3 BLT Cair Minggu Depan Hanya untuk Kategori Ini

Dan banyak lagi makam bersejarah di Bumi Caram Seguguk julukan Kabupaten Ogan Ilir yang sudah dibahas di media palpres.com. 

Ada satu makam lagi yang belum kita bahas?.

Makam tersebut adalah makam Syekh Kiyai Haji Bahri Pandak, yang terletak di Desa Tanjung Atap, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel.

Konon katanya, Syekh KH.Bahri bin Pandak salah satu wali Qutub Allah, seorang ulama penesak karismatik yang makamnya hingga kini banyak didatangi penziarah.

BACA JUGA:Cek NIK Kamu Disini! Ada BLT Rp1.500.000 Bagi 10 Juta Penerima, Cair Senin Ini

Seperti yang dikutip di Tarbiyah Islamiah, Kiyaih Haji Bahri bin Pandak lahir di Desa Tanjung Atap pada tahun 1916 Masehi, beliau dibesarkan di lingkungan yang taat beragama.

Pada tahun 1922 Masehi beliau tercatat mondok di Desa Sakatiga, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir dengan berguru kepada ulama lulusan Al Azhar Kairo yaitu Syekh Kiyaih Haji Ishaq Bahsin, Syak Kiyai Haji Bahri bin Bunga dan Syak Kiyai Haji Sayyidina Harun Sakatiga.

Lalu pada usia 11 tahun dirinya kemudian pergi ke wilayah Banten untuk belajar Al-Qur'an, dan menghafalkannya langsung dari Syekh Tubagus Makmun dan Kiyaih Haji Asnawi Caringin, serta mendapatkan ijazah thoriqoh qodiriyah naqsabandia.

Lebih kurang 5 tahun, Kiyaih Haji Bahri bin Panda belajar di Banten, selanjutnya ia memutuskan belajar ke Jambi, di pondok pesantren Sa’adatud Daren.

BACA JUGA:Jangan Sampai Hangus, Ayo Ambil Dana Bansos PKH Rp750 Ribu dan BPNT Rp600 Ribu Sebelum Tanggal Ini

Kategori :