Pada 29 Agustus 1741, tsunami dahsyat melanda sepanjang 120 kilometer (75 mil) pantai Jepang, menewaskan sedikitnya 1.467 orang.
Gelombang tertinggi diperkirakan mencapai 34 meter (112 kaki) berdasarkan cerita lisan, meskipun catatan tertulis memperkirakan ketinggiannya 13 meter (43 kaki).
1792: Megatsunami Unzen, Jepang
BACA JUGA:Gempa Laut 6.0 Magnitudo Pagi Ini Guncang Buol Sulteng, Tak Berpotensi Tsunami
BACA JUGA:Update BMKG, Gempa 4.7 Magnitudo Pagi Ini Guncang Maluku Tenggara Barat, Tak Berpotensi Tsunami
Tsunami setinggi 100 meter dipicu oleh letusan vulkanik Gunung Unzen di Kyushu, Jepang, yang menyebabkan tanah longsor bawah laut.
Diperkirakan, 10.000 orang tewas akibat tsunami, sementara 5.000 orang lainnya tewas akibat tanah longsor.
eristiwa ini menjadi salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah Jepang.
1883: Megatsunami Krakatau, Indonesia
BACA JUGA:Update BMKG, Gempa 4.1 Magnitudo Guncang Melonguane Sulut, Tak Berpotensi Tsunami
BACA JUGA:Update BMKG, Gempa 4.7 Guncang Melonguane Sulut, pada Kedalaman 123 Km, Tak Berpotensi Tsunami
Pada 27 Agustus 1883, letusan dahsyat Gunung Krakatau menimbulkan aliran piroklastik yang menyebabkan megatsunami di Selat Sunda.
Gelombang mencapai ketinggian hingga 24 meter (79 kaki) di sepanjang pantai selatan Sumatra dan hingga 42 meter (138 kaki) di pantai barat Jawa.
Tsunami ini menewaskan lebih dari 30.000 orang dan menghancurkan pemukiman di wilayah Banten.
1936: Megatsunami Lovatnet, Norwegia
BACA JUGA:Update BMKG, Pagi Ini Gempa 4.6 Magnitudo Guncang Melonguane Sulut, Tak Berpotensi Tsunami
Pada 13 September 1936, tanah longsor besar dari Gunung Ramnefjellet dengan volume 1.000.000 meter kubik jatuh ke dalam danau Lovatnet di Norwegia, menciptakan tiga megatsunami.
Gelombang tertinggi mencapai ketinggian 74 meter (243 kaki).