Anak Pintar Teknologi, Tetapi Masih Lemah Literasi

Jumat 17-07-2026,14:08 WIB
Reporter : Mujianto
Editor : Mujianto

Akibatnya, kemampuan memahami bacaan, memperkaya kosakata, dan mengembangkan daya pikir menjadi kurang optimal.

BACA JUGA:Kuliah S1 Gratis Tanpa LPDP? Inilah 5 Program Beasiswa Pemerintah yang Bisa Kamu Coba Tahun Ini

BACA JUGA:Dampingi Wapres Gibran Tinjau Layanan BPJS, Herman Deru dan Cik Ujang Komitmen Benahi Fasilitas Kesehatan

Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan di Sumatera Selatan, termasuk di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Perkembangan teknologi telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Internet semakin mudah diakses, telepon pintar semakin terjangkau, dan berbagai aplikasi belajar tersedia secara gratis.

Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan budaya membaca yang kuat.

Sekolah memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan literasi. Pembelajaran tidak cukup hanya mengejar penyelesaian materi pelajaran.

BACA JUGA:Kabar Gembira bagi Guru PPPK! Anggota DPRD Sumsel Kiky Subagio Ungkap Peluang Pindah Tugas

Guru perlu menciptakan suasana belajar yang mendorong peserta didik gemar membaca, bertanya, berdiskusi, dan menulis. Ketika anak menikmati proses belajar, kemampuan literasinya akan berkembang secara alami.

Guru juga perlu mengubah cara pandang terhadap teknologi. Gawai bukan musuh pendidikan, tetapi alat yang harus dimanfaatkan secara bijaksana.

Misalnya, peserta didik dapat diajak membaca buku digital, mencari informasi dari sumber yang terpercaya, membuat rangkuman menggunakan aplikasi, atau berdiskusi tentang isi bacaan melalui media pembelajaran digital.

Dengan demikian, teknologi justru menjadi sarana untuk memperkuat literasi, bukan menggantikannya.

BACA JUGA:Kabar Baik dari SMAN 3 Prabumulih! 16 Siswa Jalur Afirmasi Dapat Bantuan Seragam Gratis

Namun, tanggung jawab membangun budaya literasi tidak hanya berada di pundak guru. Orang tua memiliki peran yang sama pentingnya.

Kebiasaan membaca dimulai dari rumah. Anak yang melihat orang tuanya gemar membaca akan lebih mudah meniru kebiasaan tersebut.

Sebaliknya, jika di rumah gawai menjadi pusat perhatian sepanjang hari, anak pun akan menganggap membaca sebagai kegiatan yang membosankan.

Kategori :