Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2)

Kamis 01-10-2026,10:04 WIB
Reporter : Trisno Rusli
Editor : Trisno Rusli

Ingat, ini zaman belum ada internet. Belum ada handphone.

Zaman di saat menelepon ke Indonesia ongkosnya USD 2 per menit!

John mengajari saya dasar-dasar public speaking. Bagaimana mendapatkan perhatian orang di awal penampilan. Senjata pertama adalah cara berdandan. Kebetulan saya membawa baju ala Cak Suroboyo/Jawa Timuran.

Lengkap dengan beskap dan udeng. Itu yang saya pakai setiap kali diundang jadi pembicara.

BACA JUGA:Terungkap di Sidang Korupsi Chromebook Muara Enim, Ada Permintaan Fee Proyek hingga 10 Persen

BACA JUGA:Palembang Resmi Punya Ruang Bersama Indonesia Pertama, Kilang Plaju Bikin Gebrakan Spektakuler!

Alat penarik perhatian lain: John membantu saya menyiapkan print peta Amerika dan Indonesia dalam skala yang sama. Untuk membantu memberi gambaran, bahwa ukuran dua negara hampir sama. Bedanya, yang satu daratan semua, yang satu banyak lautannya.

Kemudian muncul alat penarik perhatian utama: Kalimat-kalimat pembuka. John mengajarkan saya untuk selalu menyampaikan pembuka seperti ini:

"Terima kasih semuanya telah mengundang saya di sini. Terima kasih karena ini berarti Anda semua telah menyuguhi saya dengan makanan yang enak-enak. Anda semua mungkin tahu, kalau ibu saya Chris tidak bisa memasak, dan ayah saya John tidak bisa memasak dengan baik..."

Ucapan itu SELALU membuat audiens tertawa. Awalnya, saya tanya ke John: "Anda tidak malu saya bilang seperti itu?"

BACA JUGA:47 Tim Muda OKI Berebut Tiket ke Seri Nasional Liga Merah Putih

BACA JUGA:Ubah Hidup Mulai Hari Ini! 7 Pola Pikir Orang Sukses yang Bisa Diterapkan untuk Raih Masa Depan Gemilang

Jawaban John: "Buat apa malu. Mereka tahu soal itu. Bukan rahasia. Ha. ha ha...".

Baru saat lebih dewasa saat memahami pentingnya opening itu. Bahwa kita harus selalu mau merendah diri.

Harus bisa menertawakan diri sendiri. Hanya dengan cara itu kita bisa menjadi dekat dengan orang lain. Menjadi orang yang lebih baik...

***

Kategori :