Saya juga satu-satunya siswa muslim di sekolah. Semua di sekolah tahu betul itu. Mulai dari guru, siswa, sampai seluruh staf. Mereka sangat memperhatikan berbagai kebutuhan saya yang berbeda.
Misalnya saat makan siang di kafetaria sekolah. Para koki selalu menyiapkan makanan khusus untuk saya yang tidak mengandung pork.
BACA JUGA:Kapolsek Sanga Desa Patroli Karhutla, Cek Kesiapan Sarpras Damkar Milik Perusahaan
BACA JUGA:1.075 Hektar Tanah Adat Ogan Ilir Sengketa 36 Tahun, Serikat Tani Desak HGU PT BRK Diaudit Prabowo!
Menu makan siang di sekolah memang sangat komplet. Setiap anak mendapatkan porsi yang sama.
Ada susu segar, buah, karbohidrat, protein, dan sedikit snack atau dessert. Semua dimasak dan disajikan secara fresh di sekolah. Tidak gratis. Tapi sangat murah. Waktu itu hanya USD 2 per orang. Sangat-sangat murah untuk ukuran Amerika.
Saat bulan puasa, satu sekolah tahu saya tidak makan di siang hari. Selama sebulan, mereka menjaga untuk tidak makan di depan saya. Saat jam makan siang, saya menyibukkan diri di kamar gelap, mencuci cetak film dan foto untuk koran sekolah atau Yearbook.
Keluarga John sendiri tidak makan pork selama setahun. Selama saya di sana. Bukan hanya saat bulan puasa.
BACA JUGA:Cegah 3C, Personel Polsek Batanghari Leko Pantau Sejumlah Titik Rawan
BACA JUGA:Menara Api 32 Meter di Musi Banyuasin Siaga 24 Jam Banting Karhutla, Aksi Tim SHP Bikin Merinding!
Benar-benar toleransi 100 persen. Toleransi sepenuh hati.
Sampai hari ini saya masih takjub pada hal tersebut.
Sebagai siswa pertukaran, saya juga diminta untuk berbicara ke organisasi-organisasi masyarakat.
Termasuk ke gereja-gereja. Untuk mengenalkan Indonesia, untuk mengenalkan dunia yang berbeda bagi masyarakat di Ellinwood dan sekitarnya.
BACA JUGA:Cegah Kerusakan Lingkungan, Polsek Plakat Tinggi Gencar Sosialisasikan Bahaya Ilegal Refinery