Banner Honda PCX

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Gagal dapat ijazah SMA bukan akhir segalanya, Azrul Ananda menembus pendidikan tinggi di AS melalui sistem Junior College dan TOEFL serta membuktikan keberhasilan akademik.--Ist

Banyak teman-teman pertukaran pelajar yang mau tak mau harus menjalani itu. Mengulang lagi pelajaran setahun di Indonesia. Rugi? Tergantung sudut pandang.

Mungkin ada yang bilang rugi nambah SMA setahun. Tapi menurut saya pribadi, pengalaman setahun jadi siswa pertukaran di tempat-tempat "ajaib" adalah pengalaman tak ternilai dan tak tergantikan.

BACA JUGA:Dirut BPJS Kesehatan Ikut Senam Dahlan Iskan: Bisa Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Diabetes

BACA JUGA:Dahlan Iskan Beri Kuliah Umum di Universitas Paramadina, Bahas Manajemen Krisis Perusahaan

Bukan hanya anak Indonesia. Anak pertukaran dari negara lain juga harus mengulang kelas ketika kembali ke negaranya. Salah satunya teman saya dari Jepang, Minoru.

Waktu masa orientasi bersama di dekat Seattle, dia mengaku sudah siap dengan konsekuensi itu. Dia menyebut petualangan setahun sebagai exchange student bukanlah kendala. Dia bilang, "Kalau kita diberi hidup 80 tahun, ini hanyalah satu tahun". 

Saya sendiri sebenarnya pasrah saja kalau harus memulai lagi SMA dari kelas 10 di Indonesia. Tapi Abah saya benar-benar bertekad bahwa saya tidak boleh di Indonesia. Keluarga kami masih belum aman.
Harus cari cara. Entah bagaimana.

Keluarga kami memang tidak hidup susah. Kerja keras Abah membuat keluarga kami makin tahun makin mampu. Tapi waktu itu masih jauh dari kaya raya. Saya harus berangkat lagi ke Amerika, cari sekolah lagi entah bagaimana caranya.

BACA JUGA:Menangkan Gugatan, Saham Radar Bogor Kembali ke Dahlan Iskan

BACA JUGA:Pecah di Jakarta! DNN Sukses Gelar Disway Top Regional Leader Awards 2026, Siapa Saja Kepala Daerah Terbaiknya

Ada kenalan Abah yang anaknya sekolah di Sacramento, ibu kota California. Jadi saya disuruh berangkat ke sana. Di usia 17 tahun, tanpa bantuan siapa-siapa, saya harus cari sekolah.

Anak kenalan Abah itu hanya menjemput saya dari bandara, membantu menemukan apartemen, setelah itu tidak pernah kelihatan lagi. Wkwkwkwk...

Saya tinggal di apartemen sendirian. Apartemen kosong melompong. Hanya ada matras kasur tanpa sprei. Seminggu kemudian baru saya beli sebuah TV kecil. Belum ada internet, belum ada handphone.

Menelepon ke Indonesia mahal luar biasa. Karena belum punya teman, saya sering sekali ngobrol dengan diri sendiri, wkwkwk...

BACA JUGA:Groundbreaking, Harian Disway Siapkan Gedung Kantor Baru

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: