Banyak guru honorer di berbagai daerah masih berstatus lulusan SMA atau D3.
BACA JUGA:Hal yang Menjadi Penyebab Kamu Tidak Dapat Bansos, Simak Penjelasannya!
BACA JUGA:10 Tahun Bersama CIMB Niaga, Dara Hapsari Guru SD di Palembang Nikmati Praktisnya OCTO Mobile
Akan tetapi, yang bersangkutan sudah lama mengajar di sekolah negeri maupun swasta.
Apabila program ini benar-benar membuka akses bagi mereka, maka peluang untuk meningkatkan status profesional sekaligus kesejahteraan akan semakin besar.
Tetapi, jika program kualifikasi hanya menyasar guru ASN, maka jurang kesenjangan bisa semakin lebar.
Nantinya, guru honorer bisa tertinggal meski kontribusi mereka di lapangan sangat nyata.
BACA JUGA:Satgas Halal Sumsel Dorong Kesadaran Pelaku Usaha Lewat Literasi Sadar Halal
BACA JUGA:Manchester United 2-1 Chelsea: Bruno Fernandes Membawa Kemenangan dengan Mencetak Gol Bersejarah
Selain akses tersebut, tantangan lain yang muncul adalah fleksibilitas waktu.
Guru honorer yang sehari-hari harus mengajar dengan gaji pas-pasan sering kali kesulitan membagi waktu untuk kuliah.
Tanpa dukungan beasiswa penuh, biaya hidup, serta sistem perkuliahan yang adaptif (misalnya daring), program ini bisa sulit dijalani.
Sebenarnya, program kualifikasi S1/D4 adalah langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan.
BACA JUGA:25.000 Guru Belajar AI, Herman Deru Tegaskan Pentingnya Literasi Digital di Era Pendidikan Baru
BACA JUGA:Gempa Tektonik Magnitudo 4.0 Guncang Sukabumi-Bogor, Dipicu Sesar Aktif
Namun, keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh inklusivitasnya terhadap guru honorer