Bupati Askolani melanjutkan, saat ini di Kabupaten Banyuasin terdapat sekitar 8 ribu tenaga honorer, baik di bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, maupun tenaga teknis lainnya.
Ia mengaku akan maksimal berjuang dan melakukan segala upaya untuk para tenaga honorer.
“Ada 3 opsi yang akan menjadi bahasan selanjutnya dari hasil rapat tadi,” ucapnya.
Ketiga opsi itu, semua tenaga honorer diangkat menjadi pegawai P3K. Lalu opsi selanjutnya, semua tenaga honorer diberhentikan.
Dan, opsi terakhir, diadakan seleksi untuk pengangkatan tenaga honorer.
“Tentunya sebagai Bupati, saya memilih opsi pertama. Tetapi balik lagi penggajian harus dari pusat. Setidaknya bisa sharing fifty-fifty dengan keuangan daerah,” paparnya.
Ia dengan tegas menolak opsi kedua. Terlebih untuk tenaga honorer yang sudah mengabdi di atas 5 tahun.
“Kita harus punya hati nurani untuk mengapresiasi jasa yang telah mereka berikan,” ucapnya bersemangat.
Hal paling baik yang akan dibicarakan lebih lanjut, ia mengatakan, adalah opsi ketiga.
Askolani mengharapkan agar aturan nilai passing grade akan disesuaikan dengan masing-masing daerah.
“Seperti pendapat teman dari Papua tadi, tidak bisa menyamaratakan kemampuan kami yang di daerah dengan yang di pusat. Bisa-bisa banyak yang tidak lolos seleksi,” ujarnya menirukan ucapan Bupati dari Pulau Papua.
Dengan seleksi ketat, diharapkan juga akan didapatkan SDM yang berkualitas yang akan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. *