BACA JUGA:TERUNGKAP! Ini Alasan Banyak Pelamar Gagal CPNS 2026
Kondisi volatile, uncertain, complex, dan ambigou (VUCA) yang terus bergelombang adalah penyebabnya.
Bencana alam global pun tak terhindarkan.
Sementara bencana sosial, politik, dan ekonomi sebagai ungkapan lain dari VUCA menghidangkan kondisi FLUX (fastest, liquid, uncharter, experiment), yakni badai yang mengkuatirkan tragedi kemanusiaan, atau arus air tenang yang menghanyutkan ke lautan.
Itulah yang terjadi sejak bencana Covid-19 hingga menggelembungnya saham pada perusahaan pengembang Artificial Intelligence bersamaan dengan melambungnya harga emas dan perak.
BACA JUGA:Jabatan Kapolres Muba Resmi Dipimpin Lulusan Akpol 2005 Batalyon Tathya Dharaka
BACA JUGA:Jangan Lupa! Peserta BPJS Kesehatan Wajib Skrining Riwayat Kesehatan Sebelum Berobat
Ini merupakan bencana dari pergumulan AS melawan RRC di segala bidang sejak kalahnya Washington melawan Beijing pada perang dagang 2008.
Di banyak negara yang sekuler dan menerapkan demokrasi liberal, bencana alam dan bencana sosial politik ekonomi dipandang berdiri sendiri-sendiri.
Padahal saat kita memahami bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, maka bencana alam, apa pun bentuknya, adalah teguran keras bagi perilaku manusia yang durjana.
Teori kelangkaan sumberdaya dan permintaan yang meningkat karena bertambahnya jumlah penduduk, membenarkan terjadinya perebutan sumberdaya.
BACA JUGA:Bupati Muba Ingatkan ASN 3 Poin Penting Pada Apel Perdana di Tahun 2026
Di balik ini, keserakahan, ketidakjujuran, dan keangkuhan, lalu kebanggaan akan kekayaan dan kekuasaan merupakan bagian yang utuh.
Mereka memburu dunia.
Padahal dunia adalah bangkai binatang belaka.