Dua Tahun Prabowo: Antara Negara Kuat dan Pemerintahan Efektif

Minggu 13-09-2026,00:27 WIB
Reporter : Sulis Utomo
Editor : Sulis Utomo

Pada pertengahan 2026, pemerintah bahkan menyebut cadangan beras pemerintah telah mencapai lebih dari 5,3 juta ton. Ini tentu merupakan perkembangan penting.

Namun, swasembada pangan jangan berhenti pada angka produksi dan cadangan pemerintah.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah petani menjadi lebih sejahtera?

Apakah konsumen mendapatkan pangan dengan harga terjangkau?

Apakah produktivitas pertanian meningkat secara berkelanjutan?

Apakah ketergantungan pada impor benar-benar berkurang tanpa mengorbankan stabilitas harga?

Jawaban atas semua pertanyaan ini mesti didukung dengan data yang akurat dan lengkap. Bukan sekedar jawaban politik. 

Swasembada bukan sekadar kemampuan negara menumpuk beras di gudang.

Swasembada adalah kemampuan sebuah bangsa membangun ekosistem pangan yang sehat dari hulu sampai hilir.

Petani harus untung. Konsumen harus terlindungi. Infrastruktur harus baik.

Teknologi harus berkembang. Dan generasi muda harus mau menjadi petani modern.

Jika tidak, swasembada hanya menjadi slogan yang ujungnya akan menurunkan kepercayaan rakyat pada pemerintah.

Membangun Institusi yang Kuat

Prabowo tampaknya percaya pada negara yang kuat.

Pandangan ini mempunyai akar sejarah yang panjang dalam pemikiran politik Indonesia.

Setelah bertahun-tahun negara dianggap terlalu lemah menghadapi kepentingan ekonomi dan politik, gagasan tentang strong state memang mempunyai daya tarik.

Tetapi negara kuat mempunyai dua wajah.

Kategori :