Biarkan Kampus Tumbuh dari Akarnya
Penulis: Harry Yogsunandar, S.IP., M.I.Kom, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNSRI-Ist-
Ia menghasilkan penelitian, teknologi, inovasi, dan berbagai bentuk pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Tetapi universitas mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih mendasar. Universitas adalah ruang untuk merawat kewarasan.
Kewarasan untuk tidak mudah hanyut dalam arus.
Kewarasan untuk membedakan fakta dengan propaganda, pengetahuan dengan kepentingan, kritik dengan kebencian, serta keberanian dengan kegaduhan.
Di kampus, manusia seharusnya belajar untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi berpikir.
Tidak sekadar menerima, tetapi memeriksa. Tidak sekadar mengikuti suara mayoritas, tetapi bertanya apakah suara mayoritas itu benar.
Karena itu universitas juga merupakan tempat daya kritis dibentuk dan dirawat.
Daya kritis bukan berarti selalu menolak. Ia juga bukan kebiasaan mencurigai segala sesuatu.
Daya kritis adalah kemampuan memeriksa alasan, menguji bukti, melihat kepentingan yang bekerja di balik sebuah kebijakan, dan tetap bersedia mengubah pendapat ketika fakta menunjukkan bahwa kita keliru.
Namun berpikir kritis tanpa tanggung jawab juga berbahaya. Maka universitas harus merawat tanggung jawab intelektual.
Seorang akademisi tidak cukup hanya pandai berargumen.
Ia harus bertanggung jawab terhadap kebenaran yang ia sampaikan, terhadap metode yang ia gunakan, terhadap konsekuensi pengetahuan yang ia hasilkan, serta terhadap masyarakat yang menjadi alasan keberadaan universitas.
Di situlah integritas menjadi penting.
Universitas seharusnya melatih manusia untuk berani mengatakan bahwa sesuatu yang salah adalah salah dan sesuatu yang benar adalah benar - bukan berdasarkan kebencian, keberpihakan, tekanan kekuasaan, atau kepentingan sesaat, tetapi berdasarkan bukti, argumentasi, dan hati nurani akademik.
Keberanian seperti itu tidak lahir dari ruang yang hanya mengejar capaian.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
