LUBUKLINGGAU, PALPRES.COM- Staf Ahli Wali Kota Lubuk Limggau Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, H Kamaludin bersama Plt Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, H Heri Zulianta mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi tahun 2025 yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara virtual melalui zoom meeting di Command Center Pemkot Lubuk Linggau, Senin (5/5/2025).
Rakor yang dipimpin Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir, menekankan pentingnya peran kepala daerah dalam memantau dan menekan angka inflasi di masing-masing wilayah.
Tomsi menegaskan, dalam rapat setiap awal bulan, selalu dijelaskan mengenai angka inflasi bulan sebelumnya.
Oleh karena itu, bagi kepala daerah yang wilayahnya mengalami inflasi tinggi diminta menjelaskan langkah serta kendala yang dihadapi.
BACA JUGA:Sekda Lubuklinggau H Trisko Defriyansa Jadi Narasumber Kegiatan PKA dan PKP
"Setiap daerah harus saling bekerjasama melalui mekanisme suplai antarwilayah agar inflasi dapat dikendalikan secara nasional," ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, memaparkan perkembangan inflasi April 2025.
Disebutkan bahwa tarif listrik untuk pelanggan pascabayar kembali normal pada April, seiring berakhirnya program diskon Maret lalu.
Untuk komoditas hortikultura, produksi cabai merah dan bawang merah mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, sementara cabai rawit justru meningkat.
Pemerintah bersama penyedia layanan telekomunikasi Telkomsel juga memberikan diskon hingga 50 persen untuk paket internet selama periode lebaran dan Hari Raya Nyepi, guna menjaga kestabilan jaringan.
Pudji juga menyampaikan, harga emas dunia terus menunjukkan trend kenaikan hingga akhir April.
Adapun data inflasi nasional April 2025 menunjukkan inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 1,17 persen, inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 1,95 persen, dan inflasi tahun kalender (year-to-date) berada pada angka 1,56 persen.
Inflasi bulanan tertinggi disumbang oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya seperti emas.
Sementara itu, deflasi tercatat pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan akibat adanya diskon tarif seluler.
Periode tahunan, inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta perawatan pribadi.