Di kampus, manusia seharusnya belajar untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi berpikir.
Tidak sekadar menerima, tetapi memeriksa. Tidak sekadar mengikuti suara mayoritas, tetapi bertanya apakah suara mayoritas itu benar.
Karena itu universitas juga merupakan tempat daya kritis dibentuk dan dirawat.
Daya kritis bukan berarti selalu menolak. Ia juga bukan kebiasaan mencurigai segala sesuatu.
Daya kritis adalah kemampuan memeriksa alasan, menguji bukti, melihat kepentingan yang bekerja di balik sebuah kebijakan, dan tetap bersedia mengubah pendapat ketika fakta menunjukkan bahwa kita keliru.
Namun berpikir kritis tanpa tanggung jawab juga berbahaya. Maka universitas harus merawat tanggung jawab intelektual.
Seorang akademisi tidak cukup hanya pandai berargumen.
Ia harus bertanggung jawab terhadap kebenaran yang ia sampaikan, terhadap metode yang ia gunakan, terhadap konsekuensi pengetahuan yang ia hasilkan, serta terhadap masyarakat yang menjadi alasan keberadaan universitas.
Di situlah integritas menjadi penting.
Universitas seharusnya melatih manusia untuk berani mengatakan bahwa sesuatu yang salah adalah salah dan sesuatu yang benar adalah benar - bukan berdasarkan kebencian, keberpihakan, tekanan kekuasaan, atau kepentingan sesaat, tetapi berdasarkan bukti, argumentasi, dan hati nurani akademik.
Keberanian seperti itu tidak lahir dari ruang yang hanya mengejar capaian.
Ia tumbuh dalam lingkungan yang memberi ruang untuk bertanya, ruang untuk berbeda, ruang untuk mengoreksi, ruang untuk mengatakan 'kita mungkin keliru', dan ruang untuk mempertanggungjawabkan setiap kesimpulan.
Itulah sebabnya kebebasan akademik bukan aksesori kehidupan kampus. Ia adalah jantung universitas.
Jika seluruh energi perguruan tinggi habis untuk mengejar daftar capaian, terdapat risiko universitas perlahan berubah dari ruang produksi pengetahuan dan perawatan kewarasan menjadi organisasi produksi indikator.
Kita mungkin mempunyai semakin banyak angka, tetapi belum tentu mempunyai semakin banyak pemikiran.
Kita mungkin memperoleh semakin banyak pengakuan, tetapi belum tentu semakin berani mempertanyakan apa yang salah.