Di sinilah indikator perlu ditempatkan secara hati-hati. IKU penting sebagai instrumen pengukuran kinerja dan untuk mendorong orientasi terhadap hasil serta dampak.
Tujuan itu rasional. Namun indikator seharusnya mengukur perjalanan sebuah perguruan tinggi menuju misinya, bukan secara tidak langsung membuat semua perguruan tinggi menuju tempat yang sama.
Standar minimum boleh sama. Mutu harus dijaga. Akuntabilitas wajib ada.
Tetapi keunggulan tidak harus seragam. Kampus yang hidup berdampingan dengan persoalan kelautan semestinya memperoleh ruang besar untuk menjadikan kelautan sebagai kekuatan pengetahuannya.
Perguruan tinggi yang hidup di kawasan pertanian dapat tumbuh bersama persoalan pangan.
Kampus di wilayah rawan bencana dapat mengembangkan pengetahuan kebencanaan.
Universitas yang berada dalam ekosistem gambut tidak semestinya merasa bahwa penelitian tentang masyarakat, api, air, pangan, dan lingkungan di sekitarnya kurang bernilai hanya karena perhatian akademik global sedang bergerak pada tema lain.
Internasionalisasi tentu penting. Kolaborasi internasional penting. Publikasi internasional juga penting.
Tetapi semua itu adalah jendela, bukan akar. Kampus membutuhkan jendela agar dapat melihat dunia.
Namun ia tetap membutuhkan akar agar mengetahui tempatnya berdiri.
Universitas sebagai Ruang Merawat Kewarasan
Ada persoalan yang lebih mendasar daripada indikator kinerja: kita perlu kembali bertanya untuk apa universitas dibangun.
Universitas memang mempersiapkan manusia memasuki kehidupan profesional.
Ia menghasilkan penelitian, teknologi, inovasi, dan berbagai bentuk pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Tetapi universitas mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih mendasar. Universitas adalah ruang untuk merawat kewarasan.
Kewarasan untuk tidak mudah hanyut dalam arus.
Kewarasan untuk membedakan fakta dengan propaganda, pengetahuan dengan kepentingan, kritik dengan kebencian, serta keberanian dengan kegaduhan.