Honda

Memindahkan Ibu Kota Sumatera Selatan (Bagian Kedua)

 Memindahkan Ibu Kota Sumatera Selatan (Bagian Kedua)

 

Oleh Dudy Oskandar

(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

 

SELANJUTNYA diterangkan Dr M Isa , bahwa di samping itu di Sumatera Selatan dewasa ini sedang giat diusahakan pembetulan jalan-jalan untuk memajukan perekonomian di daerah-daerah yang tertutup. Soal pengairan di sekitar Curup dan Pagaralam dan Muaraaman juga diperbaiki.

Perjalanan Dr Isa dan rombongan meninggalkan Palembang punya catatan tersendiri.

Sebelum rombongan meninggalkan Palembang, para kiai dan alim ulama memanyatkan doa-doa, memohon kepada Allah SWT agar selama dalam perjalanan rombongan diberi kekuatan lahir dan batin, Acara selamatan atas insiatif para pedagang yang juga membekali rombongan dengan aneka logistik, lauk pauk, dan pakaian, membuat seluruh rombongan terharu.

Perjalanan menyusuri Sungai Musi dengan kapal uap yang digerakkan kincir Itu berlangsung berhari-hari, Turut dalam rombongan itu Sekretaris Residen, Muljadi dan M. Ali Amin, Konsul Tiongkok Mr. Chen dan sejumlah tentara pengawal rombongan.

Tiba di Muara Kelingi rombongan menuju Lubuk Linggau untuk seterusnya melanjutkan perjalanan lewat darat ke Curup sebagai pusat pemerintahan,

"Kami berangkat bersama rombongan dengan menumpang kapal roda lambung,” kata Ali Amin mengenang peristiwa itu. M. Ali Amin, Gubernur Pertama (1968-1973) Provinsi Bengkulu adalah satu-satunya anggota rombongan yang masih dapat menceritakan perjalanan panjang dan heroik mengikuti Mohamad Isa menuju Curup.

Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Sekayu, rombongan dihadang patroli Belanda. Mohamad Isa ditangkap dan dibawa ke Palembang.

Setelah diinterogasi dengan intensif, Belanda melepaskannya. Mohamad Isa kembali melanjutkan perjalanan menuju daerah Republik dan tiba di Lubuk Linggau pada 23 Desember 1947,

Bertugas di Curup menyebabkan Mohamad Isa berpisah cukup lama dengan keluarga yang tetap tinggal di Palembang. Untuk menjaga komunikasi ia sering berkirim surat pada istrinya.

Dalam surat yang disampaikan kurir, Mohamad Isa meminta sang Istri menjaga anak-anak sebaik-baiknya, tetap tabah dan selalu berdoa memohon pertolongan kepada Allah SWT. ***

 

Sumber :

1. Kronik Revolusi Indonesia , Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer dan Ediati Kamil, Jilid IV (1948), Februari 2003, KPG

2. https://p2k.unkris.ac.id/en3/1-3065-2962/Curup_40726_p2k-unkris.html

3. Mohammad Isa – Pejuang Kemerdekaan Yang Visioner, PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2016

4. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: